Yayasan Pembinaan Anak Cacat - Nasional

Penghargaan IDAI

Sertifikat IDAI

Galeri Photo

Home Profil YPAC
PELAYANAN YPAC



PERKEMBANGAN

I. YPAC didirikan pada tahun 1953 di Surakarta pada saat mana poliomylitis sedang berjangkit yang meninggalkan gejala sisa bagi anak-anak berupa kecacatan pada otot.

Pelayanan yang diberikan diarahkan pada koreksi dari otot yang terserang melalui terapi latihan otot (fisioterapi) atau melalui operasi bila dibutuhkan. Yang sangat dibutuhkan pada saat itu adalah bantuan dari Fisioterapist, para medis, dr. Umum dan Orthopaed. Dengan berjalannya waktu dan menyadari keberhasilan yang telah dicapai YPAC untuk mengangkat harkat anak-anak cacat polio yang pada umumnya cacat tubuh maka perhatian masyarakat sekitarnya terhadap kecacatan mulai meningkat. Anak-anak cacat lain-lainpun mulai berdatangan ke YPAC untuk meminta pertolongan tanpa menghiraukan jenis dan ragam kecacatannya. Sehubungan dengan kelangkaan institusi yang menangani kecacatan pada saat itu maka YPAC tidak dapat menolaknya. Kasus yang paling menonjol adalah adanya anak-anak yang cacat ganda yang diperkirakan sebagai akibat dari kerusakan di otak (brain damage) yang kemudian dikenal sebagai cerebral palsy atau CP.

Sekitar tahun 1960 ditemukanlah vaksin untuk polio dan sejak itu kasus poliopun menurun secara dratis. Yang menonjol kemudian adalah kasus CP dimana penyebabnyapun sangat beragam. Anak-anak ini juga cacat tubuh.

Dengan demikian YPAC terpaksa merobah system pelayanannya yang kini disesuaikan dengan keberadaan dari anak-anak CP. Pelayanan yang dibutuhkan menjadi sangat rumit sehingga meningkatkan jumlah dan jenis pelayanan yang harus disiapkan. Juga meningkatkan jumlah dan ragam tenaga-tenaga terapis dan para ahli yang dibutuhkan. Keterlibatan dari dokter ahli syaraf, psikolog dan psikiater menjadi sangat dibutuhkan.

Demikianlah keberadaan YPAC yang semula didirikan untuk menangani anak-anak post polio, kini menjadi terlibat dengan masalah CP.

II. Jenis pelayanan dan pendekatannya.

Cerebral Palsy adalah suatu keadaan yang menggambarkan suatu kelainan yang tidak progresip. Hal ini terdapat pada anak yang mengalami kelainan pada otak yang mengakibatkan gangguan pada fungsi gerak (motorik).

Kelainan ini dapat muncul secara dini dan akan menetap berupa gangguan pada fungsi gerak, persepsi dan sering sekali diikuti dengan penurunan aktivitas mental dan kecerdasan.

Berhubung anak CP bercacat ganda maka pelayanan yang diberikanpun disesuaikan dengan jumlah dan jenis kecacatannya. Prinsip penanganannya adalah :

Menggali potensi sisa yang masih ada pada anak untuk dikembangkan semaksimal mungkin dalam hal mana akibat dari kecacatan yang ada dikurangi sedapat mungkin melalui program pelayanan rehabilitasi.

Sejak didirikan YPAC telah merupakan sebuah Centrum atau Pusat Pelayanan dimana pelayanan rehabilitasi yang dibutuhkan oleh anak diberikan secara terpadu melalui tiga bentuk pendekatan :

A. Secara Institutional.

    Cara ini telah dilakukan melalui 16 YPAC Daerah meliputi :

    1. Rehabilitasi Medik, terdiri dari :
          Klinik pemeriksaan, Fisioterapi, Terapi wicara, Terapi okupasi, Hydroterapi, Latihan berenang,                     Pengawasan kesehatan umum dan gigi dan bengkel pembuatan dan perawatan alat bantu.

    2. Rehabilitasi Pendidikan terdiri dari :
            Klas Observasi, TKLB; SLB B; SLB C; SLB D; SLB D1 dan kelas ketrampilan.

    3.  Rehabilitasi Sosial terdiri :
           Bimbingan belajar ; Kunjungan rumah ; Kreasi dan Rekreasi ; Pramuka ; Olah raga ; Penyantunan dan             Pendampingan/ Follow up care bagi yang memiliki panti.

    4. Kelas Karya ( Prevocasional Training) yaitu :
            Menjahit, Menenun kain pel, Berkebun dan macam-macam ketrampilan lain.

 
B. Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat ( RBM )

Institusi hanya dapat menjangkau sekitar perkotaan, sedangkang kecacatan kebanyakan berada di desa-desa. Untuk memperluas jangkauannya YPAC mencobakan suatu konsep pendekatan yang disebut Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat atau RBM. Pada pendekatan ini masyarakat, lembaga-lembaga dan dinas-dinas setempat yang ada menjadi pendukung utama dalam penanganan kecacatan yang ada didaerahnya.

Untuk pengembangan RBM telah didirikan sebuah Pusat Pengembangan Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat ( PPRBM Prof. Dr. Soeharso YPAC di- Surakarta pada tahun 1987.

C. Rehabilitasi Dalam Keluarga ( RDK )

Tempat paling baik bagi anak adalah ditengah keluarganya. Keberadaan anak didalam institusi sangatlah terbatas yaitu hanya menyangkut beberapa jam sehari, sedang selanjutnya anak berada ditengah-tengah keluarganya. Dengan demikian YPAC menguji coba sebuah konsep pendekatan yang disebut Rehabilitasi Dalam Keluarga atau RDK.

Pada pendekatan ini yang dilibatkan dan diberdayakan adalah keluarga. Dalam penanganan rehabilitasi bagi Penca Anak diberi terapi yang dibutuhkan agar dapat berlanjut dirumah dengan lebih teratur dan lebih sering untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal.


III. Seiring dengan perkembangan zaman maka isu-isu tentang kecacatan juga berubah. Masyarakat kecacatan makin menyadari bahwa semua manusia mempunyai hak yang sama. Bahwa semua manusia mempunyai kebutuhan umum dan kebutuhan khusus. Label cacat sebaiknya dihilangkan. Lebih sesuai kalau disebut ANAK DENGAN KEBUTUHAN KHUSUS.

Sebagai asset bangsa dan generasi penerus mereka mempunyai hak yang sama untuk kelangsungan hidup dan tumbuh kembang seperti anak-anak yang lain sesuai potensi yang dimilikinya. CACAT ATAU TIDAK CACAT, ANAK ADALAH ANAK. Diagnosa kecacatannya hanya diperlukan untuk mendapatkan pelayanan paling baik bagi anak, selanjutnya mereka adalah tetap anak-anak.

Kesamaan hak bagi anak dengan kebutuhan khusus dapat direalisasikan antara lain melalui pendidikan terpadu dimana anak (cacat atau tidak cacat) duduk bersama dan belajar bersama dalam satu wadah. Makin dini anak bersosialisasi, makin optimal pula hasil yang diharapkan.